Mewaspadai Upaya Adu Domba Umat Islam


Kontra.id - Jakarta. Sejak kasus penistaan Al quran oleh ahok bergulir September 2016 lalu, negeri ini mengalami gonjang ganjing sedemikian rupa hingga kini. Kasus ahok telah benar-benar telah menguras energy bangsa ini, puncaknya adalah aksi bela islam 212 yang melibatkan jutaan massa yang menuntut ahok sang penista agama dipenjara. Namun faktanya, sampai detik ini ahok hanya menjadi tersangka dan tetap melenggang bebas, siding ahok pun terkesan terus di ulur-ulur.

Di sisi lain, satu persatu tokoh-tokoh islam, utamanya para tokoh di GNPF-MUI, justru dengan sigap di panggil oleh pihak kepolisian atas dasar laporan sejumlah kasus. Habib Rizieq misalnya, baru saja dipanggil dan diperiksa oleh polda metro jaya karena ucapannya yang menyebut adanya logo palu arit di uang baru. Ucapan tersebut kemudian viral di sejumlah media social. Dengan pernyataannya itu, ia telah dituding melakukan penghasutan dan ujaran kebencian berbau SARA, berdasarkan pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45 ayat 2 UU Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11  tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik (ITE) ( Replubika co id 23/1).

Sebelumnya Habib rizieq juga telah dipanggil dan diperiksa oleh Polda Jabar atas laporan Sukmawati soekarno yang menuduhnya telah melakukan penistaan pancasila (okezone 12/1). Adanya upaya sengaja dari sejumlah pihak termasuk aparat kepolisian untuk mengkriminalisasi ulama yang anti ahok dan berseberangan dengan pengusaha.

Baca Juga :  Habib Rizieq : Saya Akan Datang Tetapi Saya Minta Keadilan Hukum

Disisi lain yang cukup menonjol sebagai rentetan peristiwa akibat kasus ahok adalah adanya upaya sejumlah pihak, termasuk aparat untuk mengadu domba antar umat islam. Yang paling menonjol adalah upaya adu domba Antara FPI dan GMBI di bandung beberapa waktu lalu, yang justru melibatkan Kapolda Jabar. Pasalnya saat Habib Rizieq dipanggil dan diperiksa oleh kepolisian atas dasar laporan kasus penistaan pancasila, masa FPI yang sengaja mengawal habib rizieq diperhadap-hadapkan dengan massa GMBI, massa GMBI yang berada dibawah binaan Kapolda Jabar berdasarkan rekaman video terbukti secara menyakinkan melakukan provokasi dan menimbulkan kerusuhan dengan melakukan pemukulan terhadsap sejumlah massa FPI.

Sebelumnya polisi hendak membenturkan Muhammadiyah dan FPI, sebagaimana diberitakan, PW Muhammadiyah jabar telah mengklarifikasi berita bersumber dari Humas Polda Jabar berjudul “Pimpinan Muhammadiyah jawa barat mengecam tindakan anarkis FPI” PW muhammadiyah menyatakan berita tersebut tidak benar “ PW Muhammadiyah jabar tidak pernah mengecam tindakan FPI tersebut, bahkan mendukung langkah-langkah yang dilakukan dalam konteks dakwah amar ma’ruf Nahi Munkar” Kata Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Barat HM Rizal Fadillah ( Republika co id 14/1)

Upaya adu domba juga melanda mahasiswa , Badan eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia mengklarifikasi beredarnya broadcast yang menyebutkan bahwa aksi 121 yang dilakukan elemen BEM SI menuntut pembubaran ormas Fronbt Pembela Islam (FPI), coordinator pusat BEM SI Bagus tito wibisono menegaskan berita pembubaran FPI merupakan bentuk fitnah besar dengan cara mengedit broadcast aksi 121. Bagus mengaku pihaknya mengecam keras oknum yang snegaja mengadu domba Antara FPI dan mahasiswa, sebab dia menilai sampai saat ini mahasiswa dan FPI masih konsisten memperjuangkan keadilan social (sindonews 16/1)

Tulisan ini dikutip dari sebagian isi Buletin Jumat dakwah Al Islam Hizbut Tahrir Indonesia
Edisi 841 27 januari 2017 / 28 Rabiul akhir 1438 H